SERING MEMBENTAK ANAK DI DEPAN UMUM?. PAHAMI INI. | Marsiajar

Motivasi

Matahari panas terik dan menyengat. Menyinari jalanan hingga terlihat jelas pandangan bergelombang karena uap jalanan dan kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di tengah-tengah kota. Saya berada di urutan ketiga dalam antrian sepeda motor yang menunggu giliran untuk mengisi ulang bensin. Sembari menunggu yang entah kenapa terasa begitu lama. Tepat di samping kiri saya yang juga berjejer antrian sepeda motor, seorang bapak membonceng anaknya yang kira-kira berusia enam tahun. Kemudian si bapak turun lalu menyuruh anaknya untuk turun karena giliran mereka hampir tiba. Setelah membuka jok kereta, si  bapak membuka tutup tabung bensin lalu merogoh kantongnya mempersiapkan uang untuk membayar tagihan bensinnya. Akan tetapi, sepertinya dia tersadar bahwa uangnya tidak cukup untuk membayar sebanyak bensin yang ingin diinginkannya. Si bapak kemudian menatap anaknya yang terheran-heran karena ayahnya kelihatan begitu panik.

“Mintak dulu uangmu yang dikasih bou tadi, nanti kuganti”, pinta si bapak dengan logat medannya yang khas.

“Ah, nanti gak bapak ganti kek hari tu”.

Si bapak mengernyitkan dahi. Tampaknya dia kesal karena gilirannya benar-benar hampir tiba. Seraya merampas uang di kantung anaknya, dia mengumpat.

“Dasar pelit kali kau!. Nanti kuganti pun sampai rumah. Kurang uangku sepuluh ribu lagi. biar kuisi minyak ini dua puluh”

Si anak masih tak rela uangnya diambil karena kelihatannya sudah tidak punya rasa percaya lagi kepada bapaknya. Ia mulai meronta meminta uang yang sudah terlanjur berada di tangan bapaknya.

“Gak mau aku pak. Nanti gak bapak ganti.”, sahutnya sambil meraih-raih tangan bapaknya.

“Nanti kuganti!”, sahut bapaknya. Kali ini, suaranya meninggi.

Si anak tak mau kalah. Mungkin ia sudah kehilangan rasa percaya terhadap bapaknya. Kali ini ia mulai melompat dan meraung-raung meminta bapaknya agar mengembalikan uangnya. Si bapak yang kesal dan mulai merasa malu karena teriakan-teriakan anaknya, akhirnya meremas uang dua puluh ribu tersebut lalu melemparkan uang itu ke arah anaknya, tepat mengenai wajahnya. 

“Ini!. Ambillah uangmu itu. Baru segitu aja udah pelit kali kau!”, sahut si bapak sambil mendorong sepeda motornya ke depan. Ia mengisi  bensinnya sepuluh ribu. Si anak, dengan sekuat hati mencoba menahan untuk tidak menangis,l mengutip uangnya yang sudah kusut dan lusuh. Merapikannya kembali lalu memasukkannya ke kantongnya. Ia tidak berani menangis keras-keras karena mata ayahnya sebentar-sebentar melotot ke arahnya. Akan tetapi, jelas ia kelihatan sesenggukkan. Rasanya, si bapak belum selesai dengan amarahnya kepada si anak. 

“Tinggal disini aja kau ya?”. Kata-kata si bapak sontak membuat tangis si anak semakin keras. Ia menggeleng dan memohon untuk tidak ditinggalkan. Bahkan meski kenyataannya hal tersebut tidaklah benar, sepertinya si anak tidak paham bahwa si bapak hanya mengancam.

“Iyalah tinggal. kau kan pelit.”, tangisan si anak makin keras. 

“Jangan paak… hu..hu..hu.. mau ikut bapak”, si anak semakin memohon-mohon kepada bapaknya.

“Itulah kau, pelit kali pulak. Naik kereta juganya kau. Tapi pelit kali kau kasih uangmu”.

Seperti makan buah simalakama. Si anak tidak tahu harus menjelaskan apa. Yang hanya ia tahu saat itu adalah merendah agar bapaknya tidak meninggalkannya sendiri.

“Ikut paaaak. hu...hu..hu..”

“Udah, cepat naik. Kutinggalkan pulak kau nanti. Palak kali aku lihat kau”.

Seperti lembu dicucuk hidungnya. Si anak naik ke boncengan ayahnya. Si ayah melajukan sepeda motornya dengan menghentak-hentak. Masih menakut-nakuti anaknya, masih memuaskan kemarahannya pada si anak yang seharusnya dilindunginya.

“Kak.. kak… mau diisi berapa?”, ternyata mbak-mbak si pengisi bensin sudah beberapa kali memanggil saya. Masih terheran-heran dengan sikap si bapak tadi, seperti orang linglung saya menurut pada perintah mbak bensin, lalu menyelesaikan transaksiku.

Entah apa yang ada di kepala bapaknya itu, hanya karena sepuluh ribu rupiah, tanpa pikir panjang, ia melukai dan membunuh karakter anaknya sendiri.  Ada beberapa hal yang seharusnya dipikirkan orangtua dan pendidik dengan sangat baik sebelum melakukan tindakan seperti ini, yaitu :

1.  Memarahi anak di depan umum, akan menghilangkan kepercayaan dirinya.

Apa yang anda lakukan jika seseorang memarahi anda di tempat umum?. Tentu anda sendiri akan marah dan merasa kesal karena sudah dipermalukan, bukan?. Hal ini juga terjadi pada anak-anak. Apalagi, jika hal ini terus terjadi secara berulang-ulang. Anak yang terlalu sering dimarahi akan tumbuh menjadi anak yang minderan, atau tidak percaya diri. Mereka akan sulit untuk memutuskan sesuatu dan akan selalu bergantung kepada orang lain.  Ujung-ujungnya, hal ini juga akan berdampak pada penurunan prestasi di sekolahnya. Memang seringkali, orang tua kehilangan kesabaran terhadap anak-anak. Sebagai guru, saya pun terkadang “meledak” melihat tingkah laku murid-murid saya. Akan tetapi, sebagai orang yang lebih dewasa, sebaiknya kita memahami betul hal ini.

2.  Anak yang sering dimarahi di depan umum, bisa menjadi anak yang pemberontak.

Tidak jarang, anak yang terlalu sering dimarahi akan menjadi pemberontak. Bisa saja tidak secara brutal, tetapi si anak akan terlihat menolak semua yang kita katakan maupun berikan. Lebih parahnya lagi, jika pemberontakan ini terakumulasi menjadi depresi bahkan gangguan jiwa.

3. Anak yang sering dimarahi, akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak bisa mengendalikan emosi.

Kebiasaan anak-anak itu merupakan cerminan dari orangtuanya. Perhatikan saja cara anak-anak makan, berbicara, dialek yang mereka gunakan, bahkan kebiasaan menggunakan gadget yang kita lakukan. Demikian pula jika sebagai orangtua dan pendidik kita sering tidak dapat mengendalikan emosi kita sendiri, tentu saja ini akan berdampak pada perilaku dan pola pikir anak-anak itu sendiri.Kalau sudah begini, saat berinteraksi dengan lingkungan sosial si Anak pun bisa sewaktu-waktu mengeluarkan ketidakstabilan emosinya. Dampak jangka panjangnya sendiri, saat sudah dewasa si Anak akan mengikuti pola asuh dari orangtua yang suka membentak. Kalau sudah begini, kapan kebiasaan membentak anak di lingkungan keluarga bisa berakhir?

Hingga detik ini, adegan si-bapak yang memarahi anaknya di depan umum itu belum bisa saya lupakan. Semoga, ketika anda , siapapun dan apapun profesi anda, hendak meluapkan emosi kepada anak-anak, boleh berfikir lebih matang untuk melakukannya. Adalah benar menegur anak-anak akan kesalahannya. Akan tetapi, hendaklah teguran yang kita sampaikan bersifat mendidik dan bukan menjadi arena pelampiasan emosi dan kekesalan kita yang telah terselip masalah lainnya. Seperti sebuah penyakit, apa yang anda lakukan, demikianlah yang akan anda tularkan kepada anak-anak anda dan keluarga yang akan mereka bentuk nantinya. God Bless.

Ms SARI

pekerjaan : Pendidik

Comments
Leave a Comment