FITA SUKIYANI : PENGGUNAAN TEKNOLOGI TERBAIK ITU YA MENGGUNAKAN APA YANG ADA DI SEKITAR KITA... | Marsiajar

Motivasi

Beberapa waktu kemarin saya berkesempatan untuk mewawancarai ibu Fita Sukiyani, salah seorang guru berprestasi dari Yogyakarta. Beliau merupakan salah satu guru yang terpilih mewakili Indonesia untuk mengikuti Microsoft Innovative Educator Expert Conference (MIEE) 2016 di Budapest, Hungaria, bersama dengan perwakilan pendidik lainnya dari 270 negara di dunia.

Microsoft  Innovative Educator Expert merupakan sebuah komunitas guru dari seluruh dunia yang diinisiasi oleh microsoft. Setiap tahun, Microsoft merekrut guru-guru yang melaksanakan TWT (teaching with technology) di kelasnya, lebih lanjut, TWT sendiri tidak hanya sebatas kegiatan kelas dimana guru hanya mempresentasikan pelajaran dengan slide power point sedangkan peserta didik hanya mendengar, akan tetapi TWT yang dimaksud adalah suatu kegiatan belajar-mengajar dimana anak didik sendiri pun belajar dengan menggunakan teknologi. Lebih jauh, dikarenakan kegiatan ini digerakkan oleh Microsoft, maka teknologi yang digunakan pun menggunakan teknologi yang diusung oleh Microsoft. 

Ibu Fita berkisah bahwa awalnya beliau tidak cukup percaya diri untuk mengikuti seleksi MIEE. Hal ini dikarenakan jika berbicara tentang Microsoft, kosakata ini berkaitan erat dengan penggunaan teknologi yang rumit sedangkan fasilitas teknologi di sekolahnya masih dapat dikatakan sangat minim.

Menurut ibu Fita sendiri, bergabung di komunitas ini membantu beliau memahami bahwa teknologi yang kita gunakan bukanlah teknologi yang kompleks. Akan tetapi, dengan menggunakan teknologi sederhana seperti Microsoft Word dengan kreatif, sudah dapat dikatakan menggunakan teknologi. Bahkan, pada saat seleksi Ibu Fita hanya menggunakan teknologi Microsoft Word

Adapun kegiatan belajar yang diangkat beliau pada saat seleksi yaitu pada pembelajaran Geometri di kelas 1 sekolah dasar. Bu Fita mengangkat materi ini karena di kelasnya masih banyak peserta didik yang menganggap belajar matematika merupakan pelajaran yang menakutkan.

Untuk membantu peserta didik memahami materi dengan baik, Ibu Fita mengajak peserta didik untuk menggambar batik menggunakan berbagai bentuk shape di Microsoft Word. Setelah itu, gambar di cetak di kertas kemudian di cetak langsung menjadi taplak meja, kaus dan lain sebagainya. Alhasil, metode yang kreatif ini menghantarkan bu FIta sebagai salah satu pendidik yang terpilih secara nasional bahkan dikirim sebagai salah satu perwakilan Indonesia di konferensi yang bergengsi ini.

Pada pertemuan yang dihadiri guru-guru terbaik ini, peserta diberikan kesempatan untuk mencoba produk-produk terbaru dari Microsoft dan diberi challenge untuk membuat suatu project-based learning dengan menggunakan produk dari microsoft tersebut. Dalam proses pengerjaannya, para pendidik dibagi ke dalam kelompok beranggotakan 5-7 orang. Ibu Fita sendiri mendapatkan teman kelompok pendidik yang berasal dari Negara Amerika, UK, Chili dan Meksiko.

“Sepulang dari kegiatan ini saya merasa pikiran saya semakin terbuka. Ternyata selama ini kita (pendidik) masih sering menyulitkan diri sendiri, dan menganggap bahwa menggunakan teknologi itu sangat rumit. Ternyata, penggunaan teknologi terbaik itu ya dengan menggunakan apa yang sudah ada di sekitar kita”. Menurut ibu Fita, pembelajaran di negara maju sendiri ternyata tidaklah serumit yang kita bayangkan. Para pendidik juga sering mengajak peserta didik untuk belajar melalui permainan. Hanya saja, keunggulan negara maju adalah mereka memiliki infrastruktur yang sudah maju dibandingkan dengan kebanyakan sekolah yang ada di Indonesia.

 

MENGGUNAKAN MISTERY SKYPE

Belakang ini, Ibu FIta sangat giat membagikan pengalaman beliau menggunakan Skype di kelasnya atau biasa disebut Mystery Skype. Di Mistery Skype, kelas Ibu Fita akan berinteraksi dengan kelas pendidik yang berasal dari sekolah lain, bahkan dari negara lain, melalui panggilan Skype. Adapun persiapan yang dilakukan sebelum memulai kelas yaitu membuat meeting schedule dengan guru yang dituju dan mempersiapkan lesson plan sederhana yang berisi kegiatan apa saja yang akan dilakukan saat panggilan Skype berlangsung. 

Selain itu, materi yang dibahas tidak melulu satu pelajaran saja, bapak dan ibu guru dapat memilih materi apa saja yang sekiranya cocok untuk dibahas di kedua kelas. Salah satu contohnya saat kelas Ibu Fita belajar bahasa dengan guru dan murid-murid dari Perancis. Peserta didik Ibu Fita mengalami kesulitan untuk mengucapkan pengucapan Bahasa Perancis karena apa yang dituliskan dapat jauh berbeda dengan pengucapannya. Hal ini memberikan pengalaman baru dan menimbulkan ketertarikan tersendiri bagi peserta didiknya, serta menstimulasi rasa haus akan belajar dari orang-orang di tempat lain. 

Sedangkan tantangan yang dialami yaitu mencari guru yang memiliki waktu yang cocok dengan kelasnya, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, sangat penting bagi kedua guru untuk mengatur waktunya dengan baik. Apalagi untuk membuat janji temu dengan guru-guru yang memiliki perbedaan waktu yang cukup jauh dengan Indonesia.

 

HARAPAN MENGENAI PENDIDIKAN KEDEPANNYA

Ibu Fita berpendapat bahwa hal yang paling menantang di pendidikan sekarang adalah mengubah pola pikir antara guru dan orangtua. Menurut beliau, kolaborasi antara orangtua dan guru merupakan kolaborasi yang sangat penting untuk mensukseskan suatu proses belajar dan mengajar. Masih banyak pihak yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan sepenuhnya tanggung jawab guru.  Menurutnya itu merupakan statement warga masyarakat yang tidak mudeng dengan pendidikan. 

Tidak jarang ditemui kasus ketika peserta didik bermasalah dengan pelajaran, semua kesalahan akan ditimpakan kepada guru. Padahal sesungguhnya, pendidikan itu merupakan tanggung jawab dari kedua belah pihak. Di negara-negara maju, kolaborasi antara sekolah dan masyarakat sudah sama baiknya. Contohnya Jepang. Di Jepang, setiap sudut tempat merupakan lembaga pendidikan. Semua masyarakatnya peduli dengan pendidikan. 

Lebih jauh, di negara Cina sendiri juga orangtua sangat memperdulikan pendidikan anak-anaknya. Hal ini beliau amati pada saat pergi ke China sebagai salah satu guru yang terpilih dalam program Bantu Guru Melihat Dunia (BGMD) tahun 2018 silam. Di beberapa sekolah unggulan, banyak orangtua yang sangat peduli dengan pendidikan anaknya, bahkan ada orangtua yang protes apabila anaknya diberikan pelajaran yang “santai dan asik”, mereka justru menginginkan pelajaran yang sangat “serius”. Padahal menurutnya, pelajaran yang asik itu akan membantu perkembangan anak di luar akademisnya dan kemampuan Emotional Quotient -nya (EQ) . 

Bu Fita juga menambahkan, Daniel Goleman dalam bukunya menggambarkan perkembangan EQ anak-anak sekarang lebih cepat. Ibarat pisang, matangnya karena diperam dan bukan secara alami, sehingga rasanya kurang enak. 

Saat mengisi suatu acara, Bu FIta mendapat pertanyaan dari salah satu guru mengenai bagaimana merayu orang tua agar memperbolehkan anaknya belajar menggunakan telepon genggam. Untuk kasus seperti ini, menurut Ibu FIta, orang tua jangan dirayu, tetapi diajak berdiskusi. Karena jika guru merayu orang tua, maka guru akan banyak memberi. Karena otomatis semua biaya pembelajaran bisa-bisa dialihkan ke guru. Namun jika secara musyawarah, maka setiap pembiayaan yang terjadi bisa dilakukan secara gotong royong.

 

TANTANGAN PARA PENDIDIK SAAT INI

Selain masalah orangtua dan guru, tantangan lain yang tak kalah penting menurut Ibu Fita adalah mengenai pola pikir guru. “Masih banyak kasus yang ditemui di lapangan banyak guru yang menikmati tinggal di zona nyamannya. Khususnya guru-guru PNS. Terima gaji dan sertifikasi, jadinya terlena. Terkadang apabila ada guru yang rajin jadinya dimusuhi karena dianggap kurang kerjaan.”

Menurutnya, yang paling urgent saat ini yaitu meningkatkan mutu guru. “Pemerintah seharusnya lebih “legowo” ketika mengalokasikan dana kepada guru agar bisa belajar lagi. Kemarin baca di berita akan mendatangkan rektor dari luar negeri. Agak mengiris batin, mbak, karena sebenarnya masih banyak guru-guru di Indonesia yang bagus-bagus. Banyak ilmuwan-ilmuwan yang luar biasa hanya belum berkesempatan menjadi rektor”. 

Beliau juga menambahkan bahwa, banyaknya kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementrian itu sebenarnya sudah sangat baik dan membantu meningkatkan kapasitas guru. Akan tetapi, beliau berpendapat bahwa sebaiknya tim penyeleksi menilai para peserta tidak hanya berdasarkan aplikasi yang diberikan pada saat pendaftaran karena aplikasi pendaftaran itu bisa saja di “percantik” sebagus mungkin. Pihak penyeleksi seharusnya juga menyeleksi melalui sosial media si guru tersebut. Terlebih bagaimana mereka biasanya mendiseminasikan ilmu yang mereka dapat melalui sosial media mereka.

“Lebih jauh, pemerintah juga seharusnya mengalokasikan dana kegiatan tersebut tidak hanya saat seleksi dan saat kegiatan berjalan. Tetapi hingga pembiayaan untuk menyalurkan ilmu tersebut ke rekan-rekan yang lain. Pengalaman beliau, saat beliau ingin sharing ilmu yang beliau dapat, beliau juga harus mengeluarkan biaya untuk konsumsi dari peserta”, pungkasnya.

Ms SARI

pekerjaan : Pendidik

Comments
Leave a Comment